Aunty Rennee yang Sexy part-12

Rennee membiarkan saja Freddy meraba-raba sepasang buah dadanya yang montok ranum. Lengkap dengan putingnya yang kemerahan tegak menantang ke atas. Puting itu bergetar-getar, seirama dengan gerakan-gerakan bukit indah itu. Dan Freddy meremasnya dengan lembut. Lembut sekali. Penuh perasaan.
Rennee merengek manja. Menggeliat sambil merintih. Matanya meredup. Oukh, telapak tangan Freddy hangat dan seakan-akan mengandung magnit. Membuat Rennee jadi terangsang. Tangan lelaki itu masih juga meremas. Berpindah-pindah. Puas sebelah kanan. Beganti dengan sebelah kiri. Bervariasi dengan tekanan-tekanan yang romantis. Mendatangkan rasa geli-geli dan nikmat. “Oukh, Fred! Hmmnrhhh … sssh, akh!” ujar Rennee sambil membusungkan dada yang sedang diremas Freddy, agar Rennee lebih dapat meresapkan rasa geli-geli nikmat itu.
Freddy memang pintar menaikkan rangsang perempuan sedikit demi sedikit. Bukan hanya tangannya saja yang pintar bermain. Tetapi juga hidung dan mulutnya. Hidungnya menciumi permukaan payudara yang padat dan montok, dengan ukuran 38DD itu. Bentuknya sangat indah. Membuat gemas. Cara Freddy menciumi sepasang payudara itupun bervariasi. Sebentar keras dan sebentar lembut. Dan darah yang mengalir di tubuh Rennee semakin deras saja!

“Fred !! Kamu sering main perempuan ya?!” tanya Rennee ditengah-tengah napasnya yang terengah.
“Tidak sering, Aunty. Baru beberapa kali saja.” ujar Freddy sambil membuka mulutnya dan memasukkan puting buah dada yang merah kecoklatan itu.
“Auww … !!” Rennee menjerit lirih. Dan perempuan itu menggelinjang-gelinjang, bilamana puting buah dadanya dikulum oleh Freddy. Dan untuk kesekian kali, Rennee harus mengakui, bahwa kuluman bibir Freddy sangat berbeda dengan kuluman bibir lelaki-lelaki lainnya. “Hsssh, akh! Terus, Fred! Terussss, sayangghhh … !! Hmmmhhh … !!” dua telapak tangan Rennee mengerumasi rambut Freddy sambil menekankan ke toketnya.
Freddy semakin terangsang. Sungguh nikmat puting buah dada itu. Dikulum oleh Freddy. Dilepaskan. Dikulum. Dilepaskan lagi. Berganti-ganti kanan dan kiri. Dikulum lagi, dilepaskan lagi. Berulang-ulang dengan tak bosan-bosannya. Dan puting itu semakin tegang lagi. Freddy melakukannya bervariasi. Sebentar lembut dan sebentar keras. Dan rasa geli bercampur kenikmatan semakin terasa. “Oukh, Freddy! Teruskan, sayanghhh … !! Sssh ennnak, Fred!!!” mulut Rennee mendecap-decap seperti orang kepedasan. Tersendat-sendat. Dan buah dada Rennee semakin keras, pertanda perempuan itu kian terangsang. Lebih-lebih bilamana Freddy menggeser-geserkan di antara gigi-giginya. Nikmat! Dan napas Rennee turun naik. “Freddyy!! Keras, dikit! Ya, ya. gitu. Aukh, Fred! Kok enakkkh, sihhhh !” dan Rennee merintih-rintih.

Freddy semakin bersemangat. Digigit-gigitnya pentil susu yang kenyal itu. Dihisapnya. Lalu dijilatinya dengan bernafsu. Sebentar ditinggalkannya, puting itu. Lalu Freddy mengecupi buah dada ranum itu bertubi-tubi. Lalu kembali ke pentil susu yang siap menanti. Dihisapnya lagi. Digigitinya. Dikulum-kulumnya Lalu dilepaskannya lagi. Sementara tangan Rennee tak menentu mengerumasi rambut Freddy yang tebal, sehingga rambut lelaki itu menjadi acak-acakan.
Lama Freddy mencumbu sepasang susu yang indah menggiurkan itu. Demikian pula dengan ketiak perempuan itu. Freddy tak mau membiarkan menganggur. Ketiak Rennee mulus tanpa bulu sama sekali. Sesuai dengan selera Freddy. Freddy memang paling senang dengan perempuan-perempuan berwajah sensual yang ketiaknya bersih. Sesuai dengan pengalaman Freddy, biasanya perempuan-perempuan itu bertemperamen panas.
Freddy menciumi ketiak perempuan itu, lalu menurun sampai ke pinggang sebelah kiri. Naik lagi ke ketiaknya, menurun lagi sampai ke pinggangnya. Demikian berulang-ulang. Freddy juga menggunakan ujung lidahnya untuk menjilat-jilat sambil menggigiti keras dan lembut. “Uukh, Fred! Kami sungguh pintar membahagiakan perempuan … !!!” bisik Rennee terputus-putus.

Freddy bukan hanya sekali ini mendengar ucapan seperti itu. Ketika mencumbu ibu kostnya dulu di KL, Aunty Daisy, Freddy juga menerima ucapan-ucapan seperti itu. Di samping itu, Tante Dewi juga mengatakan, bahwa seumur hidupnya, dia takkan mampu melupakan Freddy.
Permainan lidah Freddy terus dengan gencar menyerang tempat-tempat di tubuh Rennee yang sensitip. Dijilatinya perut Rennee yang licin dan langsing. Pusarnya menjadi sasaran ciuman-ciuman Freddy berulang-ulang. Sambil berbuat demikian, tangan Freddy membelai-belai kedua paha Rennee yang masih terkatup.

Comments

Popular Posts